60

— Bunyi mobil terdengar di garasi, dengan cepat Adel keluar dari kamarnya dan menuju garasi. Saat sudah melihat bundanya keluar dari mobil, ia langsung memeluk erat tubuh mamahnya.

“Loh loh kenapa dek?” Tanya vunfanya dengan wajah yang kaget. Tidak ada jawaban dari Adel. bundanya yang peka akhirnya membalas pelukan dan mengelus-elus rambut pendek Adel.

“Adek kenapa?” Tanya bundanya sambil memegang jari-jemari Adel.

“Bun, Adel tadi gak lancar jawab matematika nya,” Jawab Adel sambil memeluk kembali bundanya. Wajahnya sudah sangat terlihat bengkak akibat menangis sejak tadi siang.

“Gapapa dek, gapapa. Bunda ga marah sama adek. Bunda bakal hargai semua hasil kamu. Bunda bakal tetap bangga sama kamu,” Jawabnya yang kemudian menepuk-nepuk punggung Adel.

“Bunda beneran ga marah?” Tanya Adel.

“Untuk apa Bunda marah? Marah karna nilai kamu jelek? Inget dari dulu bunda ga pernah tekankan kamu untuk nilai selalu tinggi, kecuali pas sekarang. Tapi bunda juga ga bisa marah, karna itu hasil kamu. Gapapa kalau hasilnya rendah, Abang juga pernah gitu kok. Jangan nangis lagi ya?” Kata bunda Adel sambil menyingkirkan bulir-bulir air mata yang masih ada di pipi Adel.

“Udah bunda mau bersih bersih dulu. Nanti malam kita beli nasi kuning kesukaan kamu,” Adel hanya menganggukkan kepalanya dan melihat bundanya yang masuk ke kamarnya.