Love Language
— “Makasi kak udah nganter aku pulang. Kapan kapan aku traktir ya?” Kata Adel sambil membungkukkan tubuhnya lalu mengukir sedikit senyum diwajahnya.
“Sama sama, beneran loh ya?” Jawabannya diikuti kedipan sebelah matanya dan jari telunjuk yang mengarah kepada Adel. Adel menganggukkan kepalanya ketika mendapatkan jawaban dari Aaron.
“Yaudah gua balik ya? Kalau misalkan lo mau nyari referensi lukisan bisa ajak gua.” Katanya saat ingin menghidupkan motornya.
“Iya, hati hati ya kak.”
—
Saat Adel ingin membuka pintu rumahnya, tidak sengaja ia melihat sepatu hitam putih yang selalu Jeson gunakan. Membuka pintu perlahan, dan terlihat lah Jeson dengan hoodie hitamnya dan celana pendek hitam yang terdapat sablonan api berwarna putih sambil membuka buka buku pelajaran.
Rasanya jatung Adel ingin jatuh saat melihat itu. Berjalan dan berjalan, “Dari mana? Ga liat chat gue? Ga biasanya.” Langkah Adel terhenti. Matilah aku, itu pikirnya.
“Habis nyari referensi lukisan buat galery.” Jawab Adel dengan penuh kegugupan di dalam dirinya.
“Sampai ga bisa buka wa?”
“Bukan gitu. Cuma tadi hp gue matiin, jadi ya gitu,” Menjelaskan secara pelan pelan.
“Oh gitu. Ga dingin apa pake celana pendek? Ga di kasih jaket apa sama yang nganter lo? Tadi gue liat dia pake jaket tuh. Dasar laki laki,” Omel Jeson.
“Lah lo juga laki laki,”
“Gue beda. Cepet bersih bersih, habis itu bawa buku lo.”
—
“Udah kan belajarnya? Gue mau tidur, capek,” Tanya Adel.
“Udah, tapi gue mau nanya masalah Yudis sama yang tadi ngantar lo siapa.” Ucap Jeson sambil memasukkan pulpen dan pensil nya ke dalam totebag nya.
“Kepo ya lo, pacar aja bukan” Adel dengan eyes roll nya.
“Soon?” Kata Jeson sambil menghadapkan tubuhnya ke arah Adel. Adel yang mendengar itu pun mengkerutkan dahi nya sebagai tanda karna ia merasa itu menjijikkan.
“Jadi Kak Yudis kakak kelas gue pas SMP. Waktu itu gue menang melukis perwakilan sekolah untuk tingkat kota, terus dia ngejek gitu sama hasil nya. Ga gitu aja dia sempat ngerobek lukisan itu, dia juga juga pernah bawa gue entah kemana gue lupa. Intinya gue trauma dekat dekat sama tu setan. Eh sekarang malah duduk sebelahan.” Adel menjelaskan namun tidak serinci apa yang terjadi kala itu.
“Wali kelas lo siapa?” Tanya Jeson.
“Bu Win. Jujur gue takut banget sama guru itu,” Kata Adel sambil melebarkan matanya.
“Bu Win baik kok orangnya. Oh iya lanjut, tadi itu siapa?”
“Itu namanya Kak Aaron, seumuran juga sama lo, tapi lebih tua dikit dia sih. Dia partner gue buat galery tahun depan, tadi sih ketemu di museum lukisan gitu yaudah deh sekalian di antar.”
“Oh gitu. Lain kali kalau jalan jangan pake celana pendek, kalau lagi les juga jangan pake celana pendek. Ga baik.” Kata Jeson sambil melepaskan hoodie hitam nya lalu meletakkannya di atas paha Adel agar menutupi bagian tersebut.
“Yaudah gue balik, senin perginya sama gue.” Ucapnya lalu berdiri dari tempat duduknya
“Naik motor?” Tanya Adel.
“Gue ga naik motor, naik angkot aja. Ga usah ngeluh, gue ga suka orang ngeluh.” Kata Jeson sambil menekan kata mengeluh.
“Lo gapapa pake kaos doang pulangnya? Ga dingin?” Tanya Adel kemudian berdiri dari duduknya.
“Dingin sih tapi gapapa. Gue balik.”
Act of service, love language utama dari perempuan bernama Adel Asharka.