Sendiri lagi.

— Jujur Adel sangat bingung dengan konsep yang akan ia buat untuk galery. Tidak sendiri, ia bekerjasama dengan beberapa orang.

Tiba sudah di 2Madison Kemang Jakarta, di lantai 2. Terlihat Zizi dan Ninda yang memperhatikan satu karya yang ada disana.

“Serius banget mba nya.” Kata Adel yang kemudian bergabung juga untuk melihat karya itu.

“Setelah gue liat liat, ni karya makna nya dalem banget.” Ucap Zizi sambil menunjuk bagian kiri karya tersebut.

“Oh iya del, lu mau buat yang kayak mana?” Tanya Ninda sambil melihat-lihat karya yang lain.

“Gue mau buat yang berkesan, ga monoton warnanya. Itu aja sih gue maunya, cuma bingung objek nya mau apa.” Jawabnya yang kemudian memilih untuk jalan ke ujung. Karena ia merasa tertarik dengan satu karya. Tertulis disitu “Rumah yang hancur”. Matanya sedikit menampung buliran air, dengan cepat ia menghapus buliran itu sebelum teman-teman nya melihat itu.

Tiba tiba handphone milik Zizi berbunyi, bahkan Adel pun mendengar itu.

“Kenapa?” Tanya Adel sambil mendekati Zizi.

“Aduh maaf Del, kayaknya gue sama Ninda pulang deh. Nyokap nyuruh pulang nih, ada yang mau di urus gitu. Ayo nin bulik.” Ajak Zizi pada Ninda.

“Ayo. Del gapapa sendiri kan?” Tanya Ninda pada Adel.

“Gapapa kok.” Setelah Adel menjawab, Zizi dan Ninda langsung turun dari lantai dua ini.

Sendiri lagi. Itu kata Adel dalam hatinya.