Sudah dua kali

— Terlihat hoodie Jeson yang telah terpakai di tubuh Adel dan tas nya yang lumayan berat sudah ada di tangannya. Menenteng tasnya keluar bersama sepatu hitam putihnya dengan tali berwarna hitam.

Mata besar itu melihat dua orang sedang berbicara, Jeson dan Bunda nya.

“Dek kenapa lama sekali? Kasian Jeson nungguin. Bisa bisa terlambat cuma gara gara kamu,” Kata wanita yang memakai blazer berwarna navy.

“Sekolah jam 8 kan masuknya? Sempat aja lah ini bun.” Balas Adel sambil melihat jam tangannya yang berwarna hitam. Setelah itu Jeson dan Adel berpamitan dengan Bunda Adel. Didalam perjalanan kaki Adel terasa dingin dikarenakan ia menggunakan rok pendek di bawah lutut.

Hanya membutuhkan 3 menit untuk menunggu angkot. Saat di dalam angkot, sepasang mata Jeson mendapatkan seseorang yang sangat mencurigakan. Mata orang itu menuju pada kaki Adel. Dengan sigap ia melepaskan jaket jeans nya yang sejak tadi ia pakai.

“Heh kenapa?” Bisik Adel. Jeson mendekati belakang telinga Adel dan berkata, “Lo liat bapak bapak di depan. Dari tadi ngeliatin kaki sampe paha lo. Makanya gue tutupin.”

Sudah dua kali.

Setelah Jeson mengatakan itu, Adel langsung memegang erat jaket jeans yang Jeson berikan.

“Berapa pak?”

“Berdua 4 ribu nak.” Balas bapak itu sambil memperlihatkan 4 jari nya kepada Jeson. Membuka dompet nya dan yang terlihat hanya uang bernilai 5 ribu rupiah.

“Ini pak, kembalian nya buat bapak aja,” Kata Jeson sambil memperlihatkan senyum yang membuat matanya tidak terlihat. Bapak itu berterimakasih, walaupun hanya seribu itu tak apa bagi bapak angkot.

Masih belum ada satupun siswa disekolah saat mereka tiba. Hanya ada satpam, Pak Asep namanya.

“Asik mas Jeson udah ada pacar nih,” Kata pak Asep sambil menyeringai lebar.

“Eh bukan pak, dia mah bukan pacar saya.” Ucap Adel tiba tiba dengan suara yang sedikit meninggi. Sesudah mengucapkan itu, Adel langsung berjalan menuju ruang kelasnya dengan cepat.

Jeson masih ada di depan pos satpam. Pak Asep pun mulai mengerti denga kode kode yang diberikan oleh Jeson pada nya.

“Semangat mas. Kalau udah jadi, traktir bapak ya?” Jeson hanya menanggapi pak Asep dengan memunculkan jari jempolnya.