nalaesarlieen

71

— 16.35, “DEKK, ADEL ASHARKA!!” teriakan bunda Adel menggelegar di segala penjuru rumah, yang membuat Adel keluar dari kamar nya.

“Apa bun?” Jawab Adel ketika sudah berada di dekat bundanya.

“Pake nanya lagi, berapa hasil nya berapa?” Tanya bunda Adel dengan nafas yang masih belum teratur. Dengan sekejap Adel membuka ponselnya yang terpampang nilai 9, 8, 8, dan 9. Bunda Adel yang melihat itu pun langsung memeluk putrinya. Rasa bangga yang ada didalam dirinya terkeluarkan dengan air mata.

“Anak bunda pinter, anak bunda hebat. Adel udah buktiin kalau Adel bisa. Adel mau apa? Bunda kabulkan,” Kata mamah Adel yang kemudian melepaskan pelukan sambil melihat wajah satu satunya anak perempuannya.

“Mau abang cepet pulang.” Jawab Adel dengan waktu singkat.

“Oke nanti bunda bilang sama Abang yah?” Adel menjawab dengan anggukan kepala saja.

60

— Bunyi mobil terdengar di garasi, dengan cepat Adel keluar dari kamarnya dan menuju garasi. Saat sudah melihat bundanya keluar dari mobil, ia langsung memeluk erat tubuh mamahnya.

“Loh loh kenapa dek?” Tanya vunfanya dengan wajah yang kaget. Tidak ada jawaban dari Adel. bundanya yang peka akhirnya membalas pelukan dan mengelus-elus rambut pendek Adel.

“Adek kenapa?” Tanya bundanya sambil memegang jari-jemari Adel.

“Bun, Adel tadi gak lancar jawab matematika nya,” Jawab Adel sambil memeluk kembali bundanya. Wajahnya sudah sangat terlihat bengkak akibat menangis sejak tadi siang.

“Gapapa dek, gapapa. Bunda ga marah sama adek. Bunda bakal hargai semua hasil kamu. Bunda bakal tetap bangga sama kamu,” Jawabnya yang kemudian menepuk-nepuk punggung Adel.

“Bunda beneran ga marah?” Tanya Adel.

“Untuk apa Bunda marah? Marah karna nilai kamu jelek? Inget dari dulu bunda ga pernah tekankan kamu untuk nilai selalu tinggi, kecuali pas sekarang. Tapi bunda juga ga bisa marah, karna itu hasil kamu. Gapapa kalau hasilnya rendah, Abang juga pernah gitu kok. Jangan nangis lagi ya?” Kata bunda Adel sambil menyingkirkan bulir-bulir air mata yang masih ada di pipi Adel.

“Udah bunda mau bersih bersih dulu. Nanti malam kita beli nasi kuning kesukaan kamu,” Adel hanya menganggukkan kepalanya dan melihat bundanya yang masuk ke kamarnya.

56

— Setelah Jeson memberi tahu Ekal, Rendi, dan Jaelani, ia langsung pergi menuju rumah Ekal menggunakan motor ayah nya. Di dalam perjalanan pikiran Jeson sudah bercampur aduk dengan firasat firasat aneh dalam dirinya.

“Woy anjing laju bener,” Teriak Ekal ketika Jeson memberhentikan motor di depan nya.

“Cepet naik, gosah cangcingcong.” Suruh Jeson pada Ekal dengan mata yang masih terfokus ke depan. Di perjalanan, Jeson sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Dengan inisiatif otaknya, Ekal membuka pembicaraan.

“Son, lu ngapa gini dah?” Tanya Ekal dengan kepala yang di miringkan agar pertanyaannya di dengar oleh Jeson.

“Diem aja udah. Mending lu telpon dua anak itu deh,” Suruh Jeson pada Ekal.

“Anjing kau nak. Males lah, nanti aja,”

“Cepet.” Jawab Jeson dengan suara keras sehingga di dengar oleh beberapa orang. Seketika itu juga Ekal langsung menelpon Rendi, ternyata disekolah pun sudah tidak ada orang. Siswa-siswi pulang ulangan sekolah pada jam 12 siang. Mendengar itu, Jeson langsung melajukan motornya, sampai hampir membuat si penumpang jatuh kebelakang.

Ketika motor Jeson sudah berhenti di depan rumah Adel, ia langsung jalan terbirit-birit untuk masuk ke dalam.

“Pelan pelan woy!” Teriak Ekal dari belakang. Jeson mengetuk-ngetuk pintu rumah Adel, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Ia dorong sedikit pintunya, ternyata tidak terkunci. Masuk dan langsung mencari ke segala ruangan.

“Lu cari di bawah, gue ke atas.” Perintah Jeson kepada Ekal, kemudian ia berlari menuju ruang atas. Ekal yang melihat wajah Jeson, merasa ada yang tidak beres dengannya.

Di pintu terakhir, Jeson langsung menutup matanya dan kemudian mengusap seluruh wajahnya yang penuh dengan keringat.

“Atur nafas lu, kalau udah teratur baru kita pulang.” Kata Ekal yang sedari tadi melihat Jeson dari tangga. Jeson yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya. Sebelum Jeson menutup pintu itu, Adel pun berkata dengan suara khas orang baru bangun tidur.

“Ngapain?” Kata Adel dengan posisi tidur membelakangi Jeson di pintu.

“Ga, gapapa. Gue pulang.” Jawab Jeson yang kemudian menutup mintu kamar itu.

“Ga pernah gue ngeliat lu kayak gini. Kenapa?” Tanya Ekal sambil meletakkan tangannya di pundak Jeson.

“Ga, ayo dah pulang. Eh anak anak udah lu suruh pulang kan?”

“Tadi udah gue kasih tau” Jawab Ekal yang kemudian memakai helm nya. Di dalam perjalanan, Ekal selalu menanyakan hal yang sama, tapi tetap saja Jeson tidak ingin menjawab apa pun dari pertanyaan Ekal. Gengsi.

59

— Bunyi mobil terdengar di garasi, dengan cepat Adel keluar dari kamarnya dan menuju garasi. Saat sudah melihat Bunda nya keluar dari mobil, ia langsung memeluk erat tubuh Bunda nya.

“Loh loh kenapa dek?” Tanya Bunda nya dengan wajah yang kaget. Tidak ada jawaban dari Adel. Bunda nya yang peka akhirnya membalas pelukan dan mengelus-elus rambut pendek Adel.

“Adek kenapa?” Tanya Bunda nya sambil memegang jari-jemari Adel.

“Bun, Adel tadi gak lancar jawab matematika nya,” Jawab Adel sambil memeluk kembali Bunda nya. Wajahnya sudah sangat bengkak akibat menangis sejak siang tadi.

“Gapapa dek, gapapa. Bunda ga marah sama adek. Bunda bakal hargai semua hasil kamu. Bunda bakal tetap bangga sama kamu,” Jawabnya yang kemudian menepuk-nepuk punggung Adel.

“Bunda beneran ga marah?” Tanya Adel.

“Untuk apa Bunda marah? Marah karna nilai kamu jelek? Inget Bunda dari dulu ga pernah tekankan kamu untuk nilai selalu tinggi, kecuali pas sekarang. Tapi Bunda juga ga bisa marah, karna itu hasil kamu. Gapapa kalau hasilnya rendah, Abang juga pernah gitu kok. Jangan nangis lagi ya?” Kata Bunda Adel sambil menyingkirkan bulir-bulir air mata yang masih ada di pipi Adel.

“Udah Bunda mau bersih bersih dulu. Nanti malam kita beli nasi kuning kesukaan kamu,” Adel hanya menganggukkan kepalanya dan melihat Bunda nya yang masuk ke kamarnya.

56.

— Setelah Jeson memberi tahu Ekal, Rendi, dan Jaelani, ia langsung pergi menuju rumah Ekal menggunakan motor ayah nya. Di dalam perjalanan pikiran Jeson sudah bercampur aduk dengan firasat firasat aneh dalam dirinya.

“Woy anjing laju bener,” Teriak Ekal ketika Jeson memberhentikan motor di depan nya.

“Cepet naik, gosah cangcingcong.” Suruh Jeson pada Ekal dengan mata yang masih terfokus ke depan. Di perjalanan, Jeson sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Dengan inisiatif otaknya, Ekal membuka pembicaraan.

“Son, lu ngapa gini dah?” Tanya Ekal dengan kepala yang di miringkan agar pertanyaannya di dengar oleh Jeson.

“Diem aja udah. Mending lu telpon dua anak itu deh,” Suruh Jeson pada Ekal.

“Anjing kau nak. Males lah, nanti aja,”

“Cepet.” Jawab Jeson dengan suara keras sehingga di dengar oleh beberapa orang. Seketika itu juga Ekal langsung menelpon Rendi, ternyata disekolah pun sudah tidak ada orang. Siswa-siswi pulang ulangan sekolah pada jam 12 siang. Mendengar itu, Jeson langsung melajukan motornya, sampai hampir membuat si penumpang jatuh kebelakang.

Ketika motor Jeson sudah berhenti di depan rumah Adel, ia langsung jalan terbirit-birit untuk masuk ke dalam.

“Pelan pelan woy!” Teriak Ekal dari belakang. Jeson mengetuk-ngetuk pintu rumah Adel, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Ia dorong sedikit pintunya, ternyata tidak terkunci. Masuk dan langsung mencari ke segala ruangan.

“Lu cari di bawah, gue ke atas.” Perintah Jeson kepada Ekal, kemudian ia berlari menuju ruang atas. Ekal yang melihat wajah Jeson, merasa ada yang tidak beres dengannya.

Di pintu terakhir, Jeson langsung menutup matanya dan kemudian mengusap seluruh wajahnya yang penuh dengan keringat.

“Atur nafas lu, kalau udah teratur baru kita pulang.” Kata Ekal yang sedari tadi melihat Jeson dari tangga. Jeson yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya. Sebelum Jeson menutup pintu itu, Adel pun berkata dengan suara khas orang baru bangun tidur.

“Ngapain?” Kata Adel dengan posisi tidur membelakangi Jeson di pintu.

“Ga, gapapa. Gue pulang.” Jawab Jeson yang kemudian menutup mintu kamar itu.

“Ga pernah gue ngeliat lu kayak gini. Kenapa?” Tanya Ekal sambil meletakkan tangannya di pundak Jeson.

“Ga, ayo dah pulang. Eh anak anak udah lu suruh pulang kan?”

“Tadi udah gue kasih tau” Jawab Ekal yang kemudian memakai helm nya. Di dalam perjalanan, Ekal selalu menanyakan hal yang sama, tapi tetap saja Jeson tidak ingi menjawab apa pun dari pertanyaan Ekal. Gengsi.

56.

Setelah Jeson memberi tahu Ekal, Rendi, dan Jaelani, ia langsung pergi menuju rumah Ekal menggunakan motor ayah nya. Di dalam perjalanan pikiran Jeson sudah bercampur aduk dengan firasat firasat aneh dalam dirinya.

“Woy anjing laju bener,” Teriak Ekal ketika Jeson memberhentikan motor di depan nya.

“Cepet naik, gosah cangcingcong.” Suruh Jeson pada Ekal dengan mata yang masih terfokus ke depan. Di perjalanan, Jeson sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Dengan inisiatif otaknya, Ekal membuka pembicaraan.

“Son, lu ngapa gini dah?” Tanya Ekal dengan kepala yang di miringkan agar pertanyaannya di dengar oleh Jeson.

“Diem aja udah. Mending lu telpon dua anak itu deh,” Suruh Jeson pada Ekal.

“Anjing kau nak. Males lah, nanti aja,”

“Cepet.” Jawab Jeson dengan suara keras sehingga di dengar oleh beberapa orang. Seketika itu juga Ekal langsung menelpon Rendi, ternyata disekolah pun sudah tidak ada orang. Siswa-siswi pulang ulangan sekolah pada jam 12 siang. Mendengar itu, Jeson langsung melajukan motornya, sampai hampir membuat si penumpang jatuh kebelakang.

Ketika motor Jeson sudah berhenti di depan rumah Adel, ia langsung jalan terbirit-birit untuk masuk ke dalam.

“Pelan pelan woy!” Teriak Ekal dari belakang. Jeson mengetuk-ngetuk pintu rumah Adel, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Ia dorong sedikit pintunya, ternyata tidak terkunci. Masuk dan langsung mencari ke segala ruangan.

“Lu cari di bawah, gue ke atas.” Perintah Jeson kepada Ekal, kemudian ia berlari menuju ruang atas. Ekal yang melihat wajah Jeson, merasa ada yang tidak beres dengannya.

Di pintu terakhir, Jeson langsung menutup matanya dan kemudian mengusap seluruh wajahnya yang penuh dengan keringat.

“Atur nafas lu, kalau udah teratur baru kita pulang.” Kata Ekal yang sedari tadi melihat Jeson dari tangga. Jeson yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya. Sebelum Jeson menutup pintu itu, Adel pun berkata dengan suara khas orang baru bangun tidur.

“Ngapain?” Kata Adel dengan posisi tidur membelakangi Jeson di pintu.

“Ga, gapapa. Gue pulang.” Jawab Jeson yang kemudian menutup mintu kamar itu.

“Ga pernah gue ngeliat lu kayak gini. Kenapa?” Tanya Ekal sambil meletakkan tangannya di pundak Jeson.

“Ga, ayo dah pulang. Eh anak anak udah lu suruh pulang kan?”

“Tadi udah gue kasih tau.” Jawab Ekal yang kemudian memakai helm nya. Di dalam perjalanan, Ekal selalu menanyakan hal yang sama, tapi tetap saja Jeson tidak ingi menjawab apa pun dari pertanyaan Ekal. Gengsi.

  1. © nalaesarlieen

Setelah Jeson memberi tahu Ekal, Rendi, dan Jaelani, ia langsung pergi menuju rumah Ekal menggunakan motor ayah nya. Di dalam perjalanan pikiran Jeson sudah bercampur aduk dengan firasat firasat aneh dalam dirinya.

“Woy anjing laju bener,” Teriak Ekal ketika Jeson memberhentikan motor di depan nya.

“Cepet naik, gosah cangcingcong.” Suruh Jeson pada Ekal dengan mata yang masih terfokus ke depan. Di perjalanan, Jeson sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Dengan inisiatif otaknya, Ekal membuka pembicaraan.

“Son, lu ngapa gini dah?” Tanya Ekal dengan kepala yang di miringkan agar pertanyaannya di dengar oleh Jeson.

“Diem aja udah. Mending lu telpon dua anak itu deh,” Suruh Jeson pada Ekal.

“Anjing kau nak. Males lah, nanti aja,”

“Cepet.” Jawab Jeson dengan suara keras sehingga di dengar oleh beberapa orang. Seketika itu juga Ekal langsung menelpon Rendi, ternyata disekolah pun sudah tidak ada orang. Siswa-siswi pulang ulangan sekolah pada jam 12 siang. Mendengar itu, Jeson langsung melajukan motornya, sampai hampir membuat si penumpang jatuh kebelakang.

Ketika motor Jeson sudah berhenti di depan rumah Adel, ia langsung jalan terbirit-birit untuk masuk ke dalam.

“Pelan pelan woy!” Teriak Ekal dari belakang. Jeson mengetuk-ngetuk pintu rumah Adel, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Ia dorong sedikit pintunya, ternyata tidak terkunci. Masuk dan langsung mencari ke segala ruangan.

“Lu cari di bawah, gue ke atas.” Perintah Jeson kepada Ekal, kemudian ia berlari menuju ruang atas. Ekal yang melihat wajah Jeson, merasa ada yang tidak beres dengannya.

Di pintu terakhir, Jeson langsung menutup matanya dan kemudian mengusap seluruh wajahnya yang penuh dengan keringat.

“Atur nafas lu, kalau udah teratur baru kita pulang.” Kata Ekal yang sedari tadi melihat Jeson dari tangga. Jeson yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya. Sebelum Jeson menutup pintu itu, Adel pun berkata dengan suara khas orang baru bangun tidur.

“Ngapain?” Kata Adel dengan posisi tidur membelakangi Jeson di pintu.

“Ga, gapapa. Gue pulang.” Jawab Jeson yang kemudian menutup mintu kamar itu.

“Ga pernah gue ngeliat lu kayak gini. Kenapa?” Tanya Ekal sambil meletakkan tangannya di pundak Jeson.

“Ga, ayo dah pulang. Eh anak anak udah lu suruh pulang kan?”

“Tadi udah gue kasih tau.” Jawab Ekal yang kemudian memakai helm nya. Di dalam perjalanan, Ekal selalu menanyakan hal yang sama, tapi tetap saja Jeson tidak ingi menjawab apa pun dari pertanyaan Ekal. Gengsi.

  1. © nalaesarlieen

Setelah Jeson memberi tahu Ekal, Rendi, dan Jaelani, ia langsung pergi menuju rumah Ekal menggunakan motor ayah nya. Di dalam perjalanan pikiran Jeson sudah bercampur aduk dengan firasat firasat aneh dalam dirinya.

“Woy anjing laju bener,” Teriak Ekal ketika Jeson memberhentikan motor di depan nya.

“Cepet naik, gosah cangcingcong.” Suruh Jeson pada Ekal dengan mata yang masih terfokus ke depan. Di perjalanan, Jeson sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Dengan inisiatif otaknya, Ekal membuka pembicaraan.

“Son, lu ngapa gini dah?” Tanya Ekal dengan kepala yang di miringkan agar pertanyaannya di dengar oleh Jeson.

“Diem aja udah. Mending lu telpon dua anak itu deh,” Suruh Jeson pada Ekal.

“Anjing kau nak. Males lah, nanti aja,”

“Cepet.” Jawab Jeson dengan suara keras sehingga di dengar oleh beberapa orang. Seketika itu juga Ekal langsung menelpon Rendi, ternyata disekolah pun sudah tidak ada orang. Siswa-siswi pulang ulangan sekolah pada jam 12 siang. Mendengar itu, Jeson langsung melajukan motornya, sampai hampir membuat si penumpang jatuh kebelakang.

Ketika motor Jeson sudah berhenti di depan rumah Adel, ia langsung jalan terbirit-birit untuk masuk ke dalam.

“Pelan pelan woy!” Teriak Ekal dari belakang. Jeson mengetuk-ngetuk pintu rumah Adel, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Ia dorong sedikit pintunya, ternyata tidak terkunci. Masuk dan langsung mencari ke segala ruangan.

“Lu cari di bawah, gue ke atas.” Perintah Jeson kepada Ekal, kemudian ia berlari menuju ruang atas. Ekal yang melihat wajah Jeson, merasa ada yang tidak beres dengannya.

Di pintu terakhir, Jeson langsung menutup matanya dan kemudian mengusap seluruh wajahnya yang penuh dengan keringat.

“Atur nafas lu, kalau udah teratur baru kita pulang.” Kata Ekal yang sedari tadi melihat Jeson dari tangga. Jeson yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya. Sebelum Jeson menutup pintu itu, Adel pun berkata dengan suara khas orang baru bangun tidur.

“Ngapain?” Kata Adel dengan posisi tidur membelakangi Jeson di pintu.

“Ga, gapapa. Gue pulang.” Jawab Jeson yang kemudian menutup mintu kamar itu.

“Ga pernah gue ngeliat lu kayak gini. Kenapa?” Tanya Ekal sambil meletakkan tangannya di pundak Jeson.

“Ga, ayo dah pulang. Eh anak anak udah lu suruh pulang kan?”

“Tadi udah gue kasih tau” Jawab Ekal yang kemudian memakai helm nya. Di dalam perjalanan, Ekal selalu menanyakan hal yang sama, tapi tetap saja Jeson tidak ingi menjawab apa pun dari pertanyaan Ekal. Gengsi.

  1. © nalaesarlieen

Setelah Jeson memberi tahu Ekal, Rendi, dan Jaelani, ia langsung pergi menuju rumah Ekal menggunakan motor ayah nya. Di dalam perjalanan pikiran Jeson sudah bercampur aduk dengan firasat firasat aneh dalam dirinya.

“Woy anjing laju bener,” Teriak Ekal ketika Jeson memberhentikan motor di depan nya.

“Cepet naik, gosah cangcingcong.” Suruh Jeson pada Ekal dengan mata yang masih terfokus ke depan. Di perjalanan, Jeson sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Dengan inisiatif otaknya, Ekal membuka pembicaraan.

“Son, lu ngapa gini dah?” Tanya Ekal dengan kepala yang di miringkan agar pertanyaannya di dengar oleh Jeson.

“Diem aja udah. Mending lu telpon dua anak itu deh,” Suruh Jeson pada Ekal.

“Anjing kau nak. Males lah, nanti aja,”

“Cepet.” Jawab Jeson dengan suara keras sehingga di dengar oleh beberapa orang. Seketika itu juga Ekal langsung menelpon Rendi, ternyata disekolah pun sudah tidak ada orang. Siswa-siswi pulang ulangan sekolah pada jam 12 siang. Mendengar itu, Jeson langsung melajukan motornya, sampai hampir membuat si penumpang jatuh kebelakang.

Ketika motor Jeson sudah berhenti di depan rumah Adel, ia langsung jalan terbirit-birit untuk masuk ke dalam.

“Pelan pelan woy!” Teriak Ekal dari belakang. Jeson mengetuk-ngetuk pintu rumah Adel, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Ia dorong sedikit pintunya, ternyata tidak terkunci. Masuk dan langsung mencari ke segala ruangan.

“Lu cari di bawah, gue ke atas.” Perintah Jeson kepada Ekal, kemudian ia berlari menuju ruang atas. Ekal yang melihat wajah Jeson, merasa ada yang tidak beres dengannya.

Di pintu terakhir, Jeson langsung menutup matanya dan kemudian mengusap seluruh wajahnya yang penuh dengan keringat.

“Atur nafas lu, kalau udah teratur baru kita pulang.” Kata Ekal yang sedari tadi melihat Jeson dari tangga. Jeson yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya. Sebelum Jeson menutup pintu itu, Adel pun berkata dengan suara khas orang baru bangun tidur.

“Ngapain?” Kata Adel dengan posisi tidur membelakangi Jeson di pintu.

“Ga, gapapa. Gue pulang.” Jawab Jeson yang kemudian menutup mintu kamar itu.

“Ga pernah gue ngeliat lu kayak gini. Kenapa?” Tanya Ekal sambil meletakkan tangannya di pundak Jeson.

“Ga, ayo dah pulang. Eh anak anak udah lu suruh pulang kan?”

“Tadi udah gue kasih tau.” Jawab Ekal yang kemudian memakai helm nya. Di dalam perjalanan, Ekal selalu menanyakan hal yang sama, tapi tetap saja Jeson tidak ingi menjawab apa pun dari pertanyaan Ekal. Gengsi.

48. H-H Ulangan Sekolah © nalaesarlieen

03.50, alarm Adel berbunyi. Ya sepagi itu ia akan terbangun, sholat terlebih dahulu dan menyiapkan semua perlengkapan yang akan di pakai hari ini. Walaupun masih terkantuk-kantuk, Adel tetap melakukan apa yang harus ia lakukan saat itu.

Menuruni tangga dengan mata terbuka lebar akibat air yang dia gunakan saat wudhu tadi sangat dingin. Ia melihat Mamah nya yang sudah menyiapkan roti untuknya.

“Mah, ga kepagian makan ini?” Tanya Adel sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Ga, dulu omma sama opu selalu jam segini makan nya,” Jelas Mamahnya kemudian membersihkan segala yang kotor di ruang dapur maupun meja makan.

“Oh iya, hari ini kan? Bisa, anak Mamah pasti bisa. Tunjukin ke dunia kalau Adel Asharka bisa,” Katanya memegang pundak Adel lalu memeluk sambil menepuk-nepuk punggung dan mengelus-elus rambut pendek milik Adel.

“Doain Adel ya, Mah. Doain Adel biar hasilnya nanti bagus, doain Adel biar bisa bahagiain mamah,” Ucap Adel dalam pelukan Mamahnya.

*“Iya, doa Mamah selalu sama adek dan kakak. Doa Mamah menyertai kalian berdua,”

“Mah, abang kapan pulang?” Tanya Adel yang kemudian pelan pelan melepaskan pelukan mamahnya.

“Masih lama, Dek. Nanti Mamah tanyain ya. Makan dulu rotinya, kalau dingin ga enak. Habis itu mandi ya,”

“Okee,” Kata Adel ambil mengacungkan jari jempol kepada Mamahnya.

“Mah, adek pergi ya bareng Zizi kok,” Teriak Adel dari luar sambil berjinjit melihat ke dalam rumah.

“Kenapa ga sama mamah sih? Mamah juga udah siap nih,” Jawab Mamah Adel sambil mencari kunci mobil di tasnya.

“Gapapa, lagi pengen sama Zizi,”

“Hati hati ya, Nak. Jangan lupa nanti berdoa dulu,” Kata Mamah Adel sambil mengarahkan matanya ke wajah Adel. Jawaban Adel pun hanya mengacungkan jempol nya lalu berlari ke tempat Zizi berdiri.

Setelah US selesai, Adel hanya diam meratapi bagaimana nanti hasilnya. Otak nya sudah bertarung dengan pikiran pikiran anehnya.

Sesampainya di rumah, ia langsung membuka buku paket IPA nya sambil melihat melihat jawabannya tadi. Sesudah membuka buku paket, ia tidak menyangka bahwa sama sekali tidak ada kesalahan dari jawabannya saat disekolah. Tapi ia masih ragu apa ini benar atau ada beberapa yang salah.