nalaesarlieen

Kedua kalinya

— Terlihat hoodie Jeson yang telah terpakai di tubuh Adel dan tas nya yang lumayan berat sudah ada di tangannya. Menenteng tasnya keluar bersama sepatu hitam putihnya dengan tali berwarna hitam.

Mata besar itu melihat dua orang sedang berbicara, Jeson dan Bunda nya.

“Dek kenapa lama sekali? Kasian Jeson nungguin. Bisa bisa terlambat cuma gara gara kamu,” Kata wanita yang memakai blazer berwarna navy.

“Sekolah jam 8 kan masuknya? Sempat aja lah ini bun.” Balas Adel sambil melihat jam tangannya yang berwarna hitam. Setelah itu Jeson dan Adel berpamitan dengan Bunda Adel. Didalam perjalanan kaki Adel terasa dingin dikarenakan ia menggunakan rok pendek di bawah lutut.

Hanya membutuhkan 3 menit untuk menunggu angkot. Saat di dalam angkot, sepasang mata Jeson mendapatkan seseorang yang sangat mencurigakan. Mata orang itu menuju pada kaki Adel. Dengan sigap ia melepaskan jaket jeans nya yang sejak tadi ia pakai.

“Heh kenapa?” Bisik Adel. Jeson mendekati belakang telinga Adel dan berkata, “Lo liat bapak bapak di depan. Dari tadi ngeliatin kaki sampe paha lo. Makanya gue tutupin.”

Setelah Jeson mengatakan itu, Adel langsung memegang erat jaket jeans yang Jeson berikan.

“Berapa pak?”

“Berdua 4 ribu nak.” Balas bapak itu sambil memperlihatkan 4 jari nya kepada Jeson. Membuka dompet nya dan yang terlihat hanya uang bernilai 5 ribu rupiah.

“Ini pak, kembalian nya buat bapak aja,” Kata Jeson sambil memperlihatkan senyum yang membuat matanya tidak terlihat. Bapak itu berterimakasih, walaupun hanya seribu itu tak apa bagi bapak angkot.

Masih belum ada satupun siswa disekolah saat mereka tiba. Hanya ada satpam, Pak Asep namanya.

“Asik mas Jeson udah ada pacar nih,” Kata pak Asep sambil menyeringai lebar.

“Eh bukan pak, dia mah bukan pacar saya.” Ucap Adel tiba tiba dengan suara yang sedikit meninggi. Sesudah mengucapkan itu, Adel langsung berjalan menuju ruang kelasnya dengan cepat.

Jeson masih ada di depan pos satpam. Pak Asep pun mulai mengerti denga kode kode yang diberikan oleh Jeson pada nya.

“Semangat mas. Kalau udah jadi, traktir bapak ya?” Jeson hanya menanggapi pak Asep dengan memunculkan jari jempolnya.

Love Language

“Makasi kak udah nganter aku pulang. Kapan kapan aku traktir ya?” Kata Adel sambil membungkukkan tubuhnya lalu mengukir sedikit senyum diwajahnya.

“Sama sama, beneran loh ya?” Jawabannya diikuti kedipan sebelah matanya dan jari telunjuk yang mengarah kepada Adel. Adel menganggukkan kepalanya ketika mendapatkan jawaban dari Aaron.

“Yaudah gua balik ya? Kalau misalkan lo mau nyari referensi lukisan bisa ajak gua.” Katanya saat ingin menghidupkan motornya.

“Iya, hati hati ya kak.”

Saat Adel ingin membuka pintu rumahnya, tidak sengaja ia melihat sepatu hitam putih yang selalu Jeson gunakan. Membuka pintu perlahan, dan terlihat lah Jeson dengan hoodie hitamnya dan celana pendek hitam yang terdapat sablonan api berwarna putih sambil membuka buka buku pelajaran.

Rasanya jatung Adel ingin jatuh saat melihat itu. Berjalan dan berjalan, “Dari mana? Ga liat chat gue? Ga biasanya.” Langkah Adel terhenti. Matilah aku, itu pikirnya.

“Habis nyari referensi lukisan buat galery.” Jawab Adel dengan penuh kegugupan di dalam dirinya.

“Sampai ga bisa buka wa?”

“Bukan gitu. Cuma tadi hp gue matiin, jadi ya gitu,” Menjelaskan secara pelan pelan.

“Oh gitu. Ga dingin apa pake celana pendek? Ga di kasih jaket apa sama yang nganter lo? Tadi gue liat dia pake jaket tuh. Dasar laki laki,” Omel Jeson.

“Lah lo juga laki laki,”

“Gue beda. Cepet bersih bersih, habis itu bawa buku lo.”

“Udah kan belajarnya? Gue mau tidur, capek,” Tanya Adel.

“Udah, tapi gue mau nanya masalah Yudis sama yang tadi ngantar lo siapa.” Ucap Jeson sambil memasukkan pulpen dan pensil nya ke dalam totebag nya.

“Kepo ya lo, pacar aja bukan” Adel dengan eyes roll nya.

“Soon?” Kata Jeson sambil menghadapkan tubuhnya ke arah Adel. Adel yang mendengar itu pun mengkerutkan dahi nya sebagai tanda karna ia merasa itu menjijikkan.

“Jadi Kak Yudis kakak kelas gue pas SMP. Waktu itu gue menang melukis perwakilan sekolah untuk tingkat kota, terus dia ngejek gitu sama hasil nya. Ga gitu aja dia sempat ngerobek lukisan itu, dia juga juga pernah bawa gue entah kemana gue lupa. Intinya gue trauma dekat dekat sama tu setan. Eh sekarang malah duduk sebelahan.” Adel menjelaskan namun tidak serinci apa yang terjadi kala itu.

“Wali kelas lo siapa?” Tanya Jeson.

“Bu Win. Jujur gue takut banget sama guru itu,” Kata Adel sambil melebarkan matanya.

“Bu Win baik kok orangnya. Oh iya lanjut, tadi itu siapa?”

“Itu namanya Kak Aaron, seumuran juga sama lo, tapi lebih tua dikit dia sih. Dia partner gue buat galery tahun depan, tadi sih ketemu di museum lukisan gitu yaudah deh sekalian di antar.”

“Oh gitu. Lain kali kalau jalan jangan pake celana pendek, kalau lagi les juga jangan pake celana pendek. Ga baik.” Kata Jeson sambil melepaskan hoodie hitam nya lalu meletakkannya di atas paha Adel agar menutupi bagian tersebut.

“Yaudah gue balik, senin perginya sama gue.” Ucapnya lalu berdiri dari tempat duduknya

“Naik motor?” Tanya Adel.

“Gue ga naik motor, naik angkot aja. Ga usah ngeluh, gue ga suka orang ngeluh.” Kata Jeson sambil menekan kata mengeluh.

“Lo gapapa pake kaos doang pulangnya? Ga dingin?” Tanya Adel kemudian berdiri dari duduknya.

“Dingin sih tapi gapapa. Gue balik.”

Act of service, love language utama dari perempuan bernama Adel Asharka.

Love Language.

“Makasi kak udah nganter aku pulang. Kapan kapan aku traktir ya?” Kata Adel sambil membungkukkan tubuhnya lalu mengukir sedikit senyum diwajahnya.

“Sama sama, beneran loh ya?” Jawabannya diikuti kedipan sebelah matanya dan jari telunjuk yang mengarah kepada Adel. Adel menganggukkan kepalanya ketika mendapatkan jawaban dari Aaron.

“Yaudah gua balik ya? Kalau misalkan lo mau nyari referensi lukisan bisa ajak gua.” Katanya saat ingin menghidupkan motornya.

“Iya, hati hati ya kak.”

Saat Adel ingin membuka pintu rumahnya, tidak sengaja ia melihat sepatu hitam putih yang selalu Jeson gunakan. Membuka pintu perlahan, dan terlihat lah Jeson dengan hoodie hitamnya dan celana pendek hitam yang terdapat sablonan api berwarna putih sambil membuka buka buku pelajaran.

Rasanya jatung Adel ingin jatuh saat melihat itu. Berjalan dan berjalan, “Dari mana? Ga liat chat gue? Ga biasanya.” Langkah Adel terhenti. Matilah aku, itu pikirnya.

“Habis nyari referensi lukisan buat galery,” Jawab Adel dengan penuh kegugupan di dalam dirinya.

“Sampai ga bisa buka wa?”

“Bukan gitu. Cuma tadi hp gue matiin, jadi ya gitu,” Menjelaskan secara pelan pelan.

“Oh gitu. Ga dingin apa pake celana pendek? Ga di kasih jaket apa sama yang nganter lo? Tadi gue liat dia pake jaket tuh. Dasar laki laki,” Omel Jeson.

“Lah lo juga laki laki,”

“Gue beda. Cepet bersih bersih, habis itu bawa buku lo.”

“Udah kan belajarnya? Gue mau tidur, capek,” Tanya Adel.

“Udah, tapi gue mau nanya masalah Yudis sama yang tadi ngantar lo siapa.” Ucap Jeson sambil memasukkan pulpen dan pensil nya ke dalam totebag nya.

“Kepo ya lo, pacar aja bukan” Adel dengan eyes roll nya.

“Soon?” Kata Jeson sambil menghadapkan tubuhnya ke arah Adel. Adel yang mendengar itu pun mengkerutkan dahi nya sebagai tanda karna ia merasa itu menjijikkan.

“Jadi Kak Yudis kakak kelas gue pas SMP. Waktu itu gue menang melukis perwakilan sekolah untuk tingkat kota, terus dia ngejek gitu sama hasil nya. Ga gitu aja dia sempat ngerobek lukisan itu, dia juga juga pernah bawa gue entah kemana gue lupa. Intinya gue trauma dekat dekat sama tu setan. Eh sekarang malah duduk sebelahan.” Adel menjelaskan namun tidak serinci apa yang terjadi kala itu.

“Wali kelas lo siapa?” Tanya Jeson.

“Bu Win. Jujur gue takut banget sama guru itu,” Kata Adel sambil melebarkan matanya.

“Bu Win baik kok orangnya. Oh iya lanjut, tadi itu siapa?”

“Itu namanya Kak Aaron, seumuran juga sama lo, tapi lebih tua dikit dia sih. Dia partner gue buat galery tahun depan, tadi sih ketemu di museum lukisan gitu yaudah deh sekalian di antar.”

“Oh gitu. Lain kali kalau jalan jangan pake celana pendek, kalau lagi les juga jangan pake celana pendek. Ga baik.” Kata Jeson sambil melepaskan hoodie hitamnya lalu meletakkannya di atas paha Adel agar menutupi bagian tersebut.

“Yaudah gue balik, besok sama gue perginya.” Ucapnya lalu berdiri dari tempat duduknya

“Naik motor?” Tanya Adel.

“Besok gue ga naik motor, naik angkot aja. Ga usah ngeluh, gue ga suka orang ngeluh.” Kata Jeson sambil menekan kata mengeluh.

“Lo gapapa pake kaos doang pulangnya? Ga dingin?” Tanya Adel kemudian berdiri dari duduknya.

“Dingin sih tapi gapapa. Gue balik.”

Act of service, love language utama dari perempuan bernama Adel Asharka.

Aaron Mahardika

— Tempat kedua yang Adel datangi adalah Moja Museum 2.0 Feelings. Karena konsepnya yang colourful, jadi Adel semakin tertarik untuk datang kesana.

Saat ia sedang melihat-lihat karya yang ada disana, pundaknya tiba tiba di pegang oleh lelaki.

“Ini Adel kan? Adel Asharka, pelukis muda yang bakal launch galery kan?” Tanya lelaki itu dengan antusias.

“Iya saya Adel Asharka, ini siapa ya?” Jawabnya dengan wajah penuh tanda tanya. Ini siapa?

“Ayo inget dulu gue siapa? Waktu itu sempat meeting loh.” Kata nya sambil membantu Adel untuk mengingat.

“OHHH KAA AARON MAHARDIKA KAN? YANG JADI PARTNER AKU.”

“Nah inget juga.” Jawab lelaki itu diikuti jentikan di jarinya.

Aaron Mahardika adalah Pelukis muda juga seperti Adel. Usianya hanya berbeda satu tahun. Dia juga menjadi partner untuk galery Adel.

“Maaf kak, jujur muka nya masih asing di mataku.” Kata Adel sambil membungkukkan tubuhnya beberapa kali.

“Gapapa santai aja kali. Ini kamu nyari referensi juga?” Ucap Aaron mengikuti Adel dari belakang.

“Iya nih bingung banget mau konsep apa.”

“Nyatuin konsep yuk?” Ajak Aaron.

Belum Adel menjawab, ia langsung menarik tangan Adel untuk mencari tempat duduk. Aaron langsung menjelaskan konsep yang ia mau seperti apa, dan begitupun sebaliknya. Mereka sudah menentukan konsep apa yang mereka akan buat dan akan di diskusikan dengan semua orang yang bersangkutan dengan galery yang akan datang.

“Minta nomor lo, biar bisa lanjut di chat” Ucap Aaron sambil memberikan handphone nya pada Adel.

“Gue anter lo ya?” Awalnya Adel menolak tawaran dari Aaron, tapi dia urungkan niatnya karena uang nya tidak cukup untuk memesan Gojek.

Sendiri lagi.

— Jujur Adel sangat bingung dengan konsep yang akan ia buat untuk galery. Tidak sendiri, ia bekerjasama dengan beberapa orang.

Tiba sudah di 2Madison Kemang Jakarta, di lantai 2. Terlihat Zizi dan Ninda yang memperhatikan satu karya yang ada disana.

“Serius banget mba nya.” Kata Adel yang kemudian bergabung juga untuk melihat karya itu.

“Setelah gue liat liat, ni karya makna nya dalem banget.” Ucap Zizi sambil menunjuk bagian kiri karya tersebut.

“Oh iya del, lu mau buat yang kayak mana?” Tanya Ninda sambil melihat-lihat karya yang lain.

“Gue mau buat yang berkesan, ga monoton warnanya. Itu aja sih gue maunya, cuma bingung objek nya mau apa.” Jawabnya yang kemudian memilih untuk jalan ke ujung. Karena ia merasa tertarik dengan satu karya. Tertulis disitu “Rumah yang hancur”. Matanya sedikit menampung buliran air, dengan cepat ia menghapus buliran itu sebelum teman-teman nya melihat itu.

Tiba tiba handphone milik Zizi berbunyi, bahkan Adel pun mendengar itu.

“Kenapa?” Tanya Adel sambil mendekati Zizi.

“Aduh maaf Del, kayaknya gue sama Ninda pulang deh. Nyokap nyuruh pulang nih, ada yang mau di urus gitu. Ayo nin bulik.” Ajak Zizi pada Ninda.

“Ayo. Del gapapa sendiri kan?” Tanya Ninda pada Adel.

“Gapapa kok.” Setelah Adel menjawab, Zizi dan Ninda langsung turun dari lantai dua ini.

Sendiri lagi. Itu kata Adel dalam hatinya.

Salah Lihat

— Ting tong ~

Suara bel rumah Adel pun berbunyi, tandanya Jeson benar benar kesini untuk les. Dengan rasa malasnya, Adel pun membukakan pintu.

“Lama.” Katanya Jeson yang langsung masuk. Ingin sekali Adel memukuli lelaki itu, tetapi ia urungkan niatnya dan kembali ke kamarnya untuk mengambil buku yang telah Jeson berikan tadi siang.

“Hari pertama sekolah udah les aja, dikira ga capek apa?” Gerutu Adel di tangga rumahnya.

“Gue bisa denger loh,”

“Ya emang sengaja biar lo denger.” Kata Adel lalu memilih untuk duduk di samping Jeson.

“Kita belajar apa? Gue bingung mau mulai dari mana nih belajarnya,” Kata Jeson sambil membolak-balik halaman buku nya.

“Ga jelas. Gue capek, tidur bentar gapapa kan?” Tangan Adel mengucek-ucek matanya.

“Gapapa tidur aja.”

Sudah sejam Adel tertidur denga melipat tangannya nya di meja menghadapi Jeson. Mulutnya yang terbuka, membuat Jeson kadang tertawa kecil.

Sesekali Jeson meminggirkan sehelai rambut Adel agar wajah Adel terlihat oleh sepasang matanya.

'Lo kapan ya sadarnya? Udah 2 bulan semenjak gue jadi tutor lo. Lo ada rasa juga ga sama gue? Yang gue harap semoga ada, biar gue ga sia sia.'

Setelah mengucapkan kalimat-kalimat itu dalam lubuk hatinya, ia merasa haus sehingga memilih untuk berjalan menuju ruang makan. Satu teguk, dua teguk, tiga teguk. Tak sengaja matanya tertuju pada foto pernikahan. Kemudian Jeson mendekat untuk melihat wajah wanita dan pria dalam foto itu.

“Heh lu ngapain?” Tanya Adel yang membuat Jeson terkejut.

“Oh gapapa, gue pulang ya? Lo juga kayaknya capek banget deh. Hati hati dirumah, soalnya nyokap lo belum balik. Kalau ada apa apa chat aja ya?” Jelas Jeson gelagapan lalu memasukkan buku bukunya ke dalam tas kemudian keluar dari rumah Adel.

‘Aneh.’ Kata Adel dalam hati.

‘Fiks gue salah liat.’

Salah Lihat

— Ting tong ~

Suara bel rumah Adel pun berbunyi, tandanya Jeson benar benar kesini untuk les. Dengan rasa malasnya, Adel pun membukakan pintu.

“Lama.” Katanya Jeson yang langsung masuk. Ingin sekali Adel memukuli lelaki itu, tetapi ia urungkan niatnya dan kembali ke kamarnya untuk mengambil buku yang telah Jeson berikan tadi siang.

“Hari pertama sekolah udah les aja, dikira ga capek apa?” Gerutu Adel di tangga rumahnya.

“Gue bisa denger loh,”

“Ya emang sengaja biar lo denger.” Kata Adel lalu memilih untuk duduk di samping Jeson.

“Kita belajar apa? Gue bingung mau mulai dari mana nih belajarnya,” Kata Jeson sambil membolak-balik halaman buku nya.

“Ga jelas. Gue capek, tidur bentar gapapa kan?” Tangan Adel mengucek-ucek matanya.

“Gapapa tidur aja.”

Sudah sejam Adel tertidur denga melipat tangannya nya di meja menghadapi Jeson. Mulutnya yang terbuka, membuat Jeson kadang tertawa kecil.

Sesekali Jeson meminggirkan sehelai rambut Adel agar wajah Adel terlihat oleh sepasang matanya.

'Lo kapan ya sadarnya? Udah 2 bulan semenjak gue jadi tutor lo. Lo ada rasa juga ga sama gue? Yang gue harap semoga ada, biar penungguan gue ga sia sia.'

Setelah mengucapkan kalimat-kalimat itu dalam lubuk hatinya, ia merasa haus sehingga memilih untuk berjalan menuju ruang makan. Satu teguk, dua teguk, tiga teguk. Tak sengaja matanya tertuju pada foto pernikahan. Kemudian Jeson mendekat untuk melihat wajah wanita dan pria dalam foto itu.

“Heh lu ngapain?” Tanya Adel yang membuat Jeson terkejut.

“Oh gapapa, gue pulang ya? Lo juga kayaknya capek banget deh. Hati hati dirumah, soalnya nyokap lo belum balik. Kalau ada apa apa chat aja ya?” Jelas Jeson gelagapan lalu memasukkan buku bukunya ke dalam tas kemudian keluar dari rumah Adel.

‘Aneh.’ Kata Adel dalam hati.

‘Fiks gue salah liat.’

Ex Crush

— Lelaki itu berjalan menuju meja Adel, karena hanya sebelah Adel yang kosong. Tidak ada yang lain lagi.

“Loh Adel? Masuk sini?” Lelaki itu membuka percakapan dengan bertanya kepada Adel.

“Hehe iya Kak Yudis.” Jawab Adel dengan nafas canggungnya. Ya, lelaki itu bernama Yudishara, orang orang memanggilnya dengan sebutan Yudis. Yudis adalah kakak kelas yang Adel sukai pada masa SMP. Tentunya sekarang sudah tidak, karna mengingat Yudis pernah mengejek tentang lukisannya.

“Gak usah panggil kak juga kali. Kita kan udah sekelas, santai aja.” Ucap Yudis yang kemudia duduk di sebelah kiri Adel.

Sudah saat nya mereka pulang. Tetapi Yudis terus saja menyuruh Adel untuk tetap duduk. Adel terus menerus mengirimkan Jeson pesan.

“ADELLL PULANGG!!” Teriakan Jeson terdengar di seluruh koridor sekolah. Sepasang mata siswa pun bertuju kepada Jeson.

“Pulang, sampe kapan mau disitu?” Tanya Jeson yang bersandar di depan pintu.

“Eh bro, lu kenal sama Adel?” Tanya Yudis.

“Iya nih kenapa?” Jeson melemparkan pertanyaan juga pada Yudis.

“Gapapa sih, bagi nomor nya dong.” Jawabnya sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya.

“Ga dulu. Cepati cil, gue mau pulang dulu nih baru rapat.” Ucap Jeson. Adel yang mendengar itu langsung mengambil tas nya dan mengikuti Jeson dari belakang.

Sesampainya di parkiran sekolah, Jeson langsung memberikan helm hitam nya yang selalu ada di motornya.

“Lo kenapa nge chat nya gitu? Lo ketakutan atau gimana?” Tanya Jeson sambil menghidupkan mesin motornya.

“Iya ketakutan pake BANGET. Nanti deh nyampe rumah gue kasih tau kenapa. anw Kak Yudis ga naik kelas gara gara apa?”

“Gak tau. Ga ngurusin orang.” Jawab Jeson

Kelas

— Setelah apel selesai, Adel berpisah dengan Ninda dan Zizi. Karena pasal nya jurusan mereka berbeda. Adel sama sekali tidak tau dimana kelas nya.

“Ayo gue anterin kelas lo.” Kata Jeson yang tiba tiba berada di samping Adel bersama teman teman nya dan ada Aurora juga.

“Ra, mending ke kelas lu deh dari pada ngikutin kek tuyul aja.” Ucap Ekal sambil melihat Aurora dengan mata sinis.

“Nih kelas lo, kalau ada apa apa panggil aja. Sebelah kiri kelas gue kok.” Ucap Jeson sambil melihat-lihat isi kelas Adel. Sepasang mata Jeson melihat ada satu lelaki yang ia selalu perhatikan.

“Ngapa jadi gini dah?”, “Disuruh nyokap lo, jadi gue harus tanggung jawab lah. Oh iya pulang bareng gue, nyokap lo tadi ngechat gue nih.” Kata Jeson sambil memperlihatkan roomchat nya dengan bunda Adel.

“Insyaallah.” Jawab Adel, yang kemudian meninggalkan Jeson cs yang ada di depan pintu.

Apel Sekolah

— Zizi berlarian menuju mobil Adel dengan sepatu kanan di tangan nya. “Lambat euy, makanya di siapin dari tadi malam,” Celetuk Ninda.

“Tadi malam tuh udah siap, rapih banget di kamar. Tadi subuh gue keluarin tuh sepatu gue di luar, eh di gondol ayam.” Adel yang mendengar itu hanya tertawa kecil, kemudian menyuruh bunda nya untuk ke NEO VIEAL.

“Jangan buat ulah ya dek, hari pertama nih. Oh iya, Ninda sama Zizi liatin Adel ya. Siapa tau berulah,”

“Apaan sih, bun.” “Siap tantee, kalau dia berulah, kita jitak kok.” Jawab Zizi sambil memberikan jari jempol nya.

“Yaudah bunda pergi ya?” Adel hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu mereka bertiga mulai memasuki wilayah sekolah NEO VIEAL. Banyak sekali sepasang mata yang melihat mereka.

“Ini kenapa banyak yang ngeliatin sih?” “Yeu elu malah nanya. Siapa sih yang gatau lu? Pelukis termuda di kota ini. Nih juga Ninda penulis, gue pemenang olimpiade. Artis nih kita fiks.” Adel dan Ninda terasa malu melihat tingkah laku Zizi.

Seluruh siswa NEO VIEAL berkumpul di tengah lapangan untuk melaksanakan apel. Terlihat kepsek yang sudah berdiri tinggi di depan tiang bendera yang kemudian membuka hari pertama sekolah.

“Saya ucapkan selamat kepada semua siswa baru yang telah masuk dalam keluarga NEO VIEAL. Semoga kalian nyaman dengan rumah kedua kalian disini. Baik saya alihkan kepada mc kita.” Ucap Bapak Hartono.

Adel telah melihat wajah yang ada di depan saat itu, Jeson. Tidak sendiri, Jeson ditemani oleh seorang perempuan yang Adel sudah ketahui namanya.

“Ya, pertama pertama izinkan saya dan rekan saya mengambil alih agenda pada hari ini. Perkenalan nama saya Jeson Brikal dan rekan saya Aurora Visqa.”

“Del, itu bukan nya kakak yang marahin lu pas mpls?” Tanya Ninda.

“Iya itu yang cewek.” Pada waktu mpls, ada hari dimana Adel ditegur oleh wanita itu, Aurora. Sebenarnya memang salah Adel, karena terlambat. Tidak ingin mengambil pusing, ia hanya diam saat ditegur an menerima hukuman.

“Hal yang pertama kita akan lakukan adalah Pemanggilan siswa baru dengan nilai tertinggi. Siapa kah mereka?” Kata Aurora dengan semangat.

**“Nilai tertinggi urutan kelima ada Olah Friska, Urutan keempat ada Bagaskara Jasko, Urutan ketiga ada Adel Asharka, Urutan kedua ada Ninda Andini, dan urutan pertama ada Nadzhira Tsabiitah Syahmi. Berikan tepuk tangan kepada 5 siswa ini.” Ucap Jeson.

Mereka dengan bangganya maju lalu memperlihatkan wajah mereka ke semua siswa NEO VIEAL. Mereka diberikan kesempatan untuk berbicara, Adel memilih untuk mengambil urutan terakhir dalam kesempatan berbicara.

“Silahkan untuk Adel Asharka.” Kata Jeson

“Assalamu'alaikum semuanya, saya Adel Asharka. Mungkin dari beberapa kalian, kakak-kakak dan guru guru sudah tau nama saya. Dulu saya jauh dari kata pintar, ya sebenarnya juga sekarang belum pintar. 6 bulan lalu, saya selalu melukis. Ga ingat waktu belajar. Lalu bunda saya bilang gini, ‘Belajar biar masuk neo vieal,’ dan akhirnya saya belajar. Saya masuk disini bukan karna orang dalam, melainkan dengan usaha saya sendiri. Tapi di balik usaha saya, ada seseorang yang sudah membantu saya dalam hal belajar. Ya walaupun orang nya ngeselin tapi gapapa, saya tetap berterimakasih kepada nya karna sudah mau membantu saya. Orang itu, kak Jeson. Yang sekarang jadi mc hari ini. Ya mungkin itu saja dari saya, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Kata Adel sambil tersenyum lebar yang membuat matanya menyipit. Jeson mendengar itu hanya tersenyum tipis.

“Terimakasih kembali Adel. Selamat kepada seluruh siswa baru, dan sekarang saatnya mencari kelas kalian. Jangan sampai salah kelas ya. Saya Jeson dan rekan saya Aurora pamit undur diri. Siapa kita?”

“NEO NEO NEO VIEAL!!” Ucap seluruh murid NEO VIEAL dengan penuh semangat.