nalaesarlieen

Berhasil?

— Lagu itu sudah berakhir, namun ada sesuatu yang membuat orang terdiam. “Ya happy new year buat kita semua, semoga tahun ini makin happy yaa. Oh iya ada sesuatu nih, tadi siang sempat datang kesini buat ketemu gua.” Kata Duta lalu mengeluarkan sepucuk kertas coklat seperti kertas lama.

“Dia ada ngasih kertas gitu, isinya tentang cintanya. Dia ga berani confess sama crush nya, jadi dia minta gua buat jadi perantara dia sama crushnya. Jujur cowo ini agak cupu karna ga berani nyatain langsung.” Saat Duta mengatakan itu, Jeson mulai menundukkan wajahnya karena malu.

“Cewe ini kayaknya bakal jadi cewe beruntung sih. Dalam suratnya gini,”

‘Halo buat perempuan kedua yang membuat hati saya tenang saat melihat wajah mu saat tertidur setelah ibuku. Halo buat perempuan pendek yang memiliki kebiasaan memakai celana pendek-’

Saat mendengar kalimat kedua itu, Adel seketika melihat Jeson. Jeson hanya bisa menyuruh Adel untuk lanjut mendengar yang dikatakan oleh Duta.

‘Halo buat perempuan yang takut gagal dalam hal matematika. Dan halo buat perempuan yang saya sukai dan cintai. Saya bukan laki laki romantis seperti laki laki lain, saya cuma bisa melakukan hal ini. Saya suka sama kamu, dan bisa dibilang juga cinta. Waktu dimana saya datang ke rumahmu dan kamu yang membukakan pintu, saya tiba tiba jatuh hati padamu. Terima cintaku dan berikan saya jawaban saat kamu telah tiba di pulau kapuk milik mu. I love you to the moon and back, Adel Asharka.’

“AAAAAA COCIWIT BANGET COWOKNYA. Buat mba Adel jangan lupa jawab yaa.” Ucap Duta sambil menepuk tangannya di ikuti oleh penonton-penonton lainnya. Jeson dengan lembutnya menarik tangan Adel untuk kembali ketempat duduk yang mereka tadi duduki. Dan mereka mendengarkan Ungu dan Andien yang sedang menyanyikan lagu Saat Bahagia.

“Mau balik ke cara gue ngomong pas pertama kali ketemu sama lu.” Kata Jeson sambil menghadap ke Adel. Dan Adel hanya menganggukkan kepalanya sambil sedikit tersenyum.

“Saya biarkan kamu untuk berfikir, saya biarkan kamu berfikir berhari hari. Saya tau kamu juga suka sama saya, walaupun belum sepenuhnya suka. Itu saya tau, Saya memberimu waktu untuk berfikir.” Setelah Jeson mengatakan itu ia langsung kembali ke posisi semula dan mengubah kembali ucapannya. Tanpa Adel sadari, sejak tadi pipinya mulai memerah kembali.

“Acieee udah pacaran nih?” Tanya Jaelani yang tiba-tiba muncul dari belakang tempat duduk. Jeson dan Adel terkejut saat kedatangan teman teman mereka.

“Jangan lupa pj nya ya,” Kata Ekal sambil mengedipkan sebelah matanya. “Lah katanya ada acara sama nyonya, kok datang?” Tanya Adel sambil menunjuk Ekal. Ternyata Ekal berbohong agar Adel bisa meminta Jeson ikut dengannya.

Mereka pun memilih untuk pulang. Saat Adel ingin mengembalikan baju flanel milik Jeson, namun Jeson berkata, “Pake aja, soalnya dingin. Udah tengah malam juga.”

Saat Jeson berada di depan Adel, Adel diam diam mengamati pundak Jeson yang bisa dibilang lumayan lebar. Dan melihat tangan Jeson, tiba tiba ia mulai menggenggam tangan Jeson. Hanya bisa kaget dan tersenyum. Senyum yang mengandung salah tingkah.

“Gue berhasilkan?”

Kita

— Lampu merah pun hidup. Keempat motor itu otomatis berhenti. Adel sedikit kedinginan karena bajunya yang lumayan tipis. “Dingin?” Ucap Jeson sambil mencoba untuk menghadap kebelakang. “Iya sedikit, tapi gapapa.” Jawab Adel menyakinkan Jeson bahwa tidak apa apa.

Parkiran saat itu sangat padat dan susah untuk mencari. Untung saja ada polisi yang mengatur parkiran disana. Mereka mulai memasuki gapura selamat datang. Ketiga perempuan itu menuju satu tempat yang lumayan rame, yaitu bear house yang tepat di samping panggung. Mereka membeli bear house dengan waktu yang lama dan harga yang sedikit menguras dompet pelajar.

Milik Adel selesai terlebih dahulu dan mulai mencari tempat duduk untuk meminumnya. Yang dilakukan oleh Jeson adalah menarik tangan Adel menuju tempat duduk yang kosong. “Kebiasaan banget pake celana pendek. Udah sering dibilangin juga.” Ucap Jeson lalu melepaskan baju flanelnya untuk menutupi kaki pendek Adel.

“Lo suka Sheila On 7?” Tanya Adel ketika selesai menyeruput es nya dan matanya menuju ke panggung untuk melihat mc.

“Suka kok.” Ucap Jeson, namun mata Jeson menuju teman temannya sambil memberikan arahan untuk mulai menjauh dan membiarkan dirinya dengan Adel disini.

“Suka lagu apa?” , “Kita” Jawab Jeson dengan pedenya. Adel hanya membentuk mulutnya menjadi huruf O. Tidak lama kemudian MC yang berada di panggung memanggil Sheila On 7 untuk naik ke atas panggung. Seluruh orang langsung menuju panggung dan salah satunya Adel. Jeson sampai pusing mencari posisi Adel. Dan akhirnya ia menemukan posisi Adel. Tepat didepan Duta

“Mari kita sambut tahun baru dengan lagu Kita!!!” Kata MC itu menggunakan mic yang membuat seluruh penonton berteriak dan bertepuk tangan dengan waktu yang bersamaan.

“LAGU LO, LAGU KESUKAAN LO NIH!!” Teriak Adel kepada Jeson yang berada disampingnya, Jeson hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum melihat Adel yang fokus pada Duta. Saat musik mulai, Adel memberikan isyarat kepada Jeson untuk ikut bernyanyi juga.

“Tu wa ga pat.” Kata Duta dengan semangat.

“Di saat kita bersama, di waktu kita tertawa, menangis, merenung oleh cinta ~” Jeson dan Adel bernyanyi saling menatap satu sama lain kemudian tersenyum.

“Dan kau bisikkan kata cinta, kau t'lah percikkan rasa sayang, pastikan kita seirama, walau terikat rasa hina ~” Saat part ini, Jeson mulai berteriak keras sambil melihat Adel yang sibuk mendokumentasi saat duta bernyanyi.

Berhasilkan?

— Lagu itu sudah berakhir, namun ada sesuatu yang membuat orang terdiam. “Ya happy new year buat kita semua, semoga tahun ini makin happy yaa. Oh iya ada sesuatu nih, tadi siang sempat datang kesini buat ketemu gua.” Kata Duta lalu mengeluarkan sepucuk kertas coklat seperti kertas lama.

“Dia ada ngasih kertas gitu, isinya tentang cintanya. Dia bisa kalau dia ga berani confess sama crush nya, jadi dia minta gua buat jadi perantara dia sama crushnya. Jujur cowo ini agak cupu karna ga berani nyatain langsung.” Saat Duta mengatakan itu, Jeson mulai menundukkan wajahnya karena malu.

“Cewe ini kayaknya bakal jadi cewe beruntung sih. Dalam suratnya gini,”

‘Halo buat perempuan kedua yang membuat hati saya tenang saat melihat wajah mu saat tertidur setelah ibuku. Halo buat perempuan pendek yang memiliki kebiasaan memakai celana pendek-’

Saat mendengar kalimat kedua itu, Adel seketika melihat Jeson. Jeson hanya bisa menyuruh Adel untuk lanjut mendengar yang dikatakan oleh Duta.

‘Halo buat perempuan yang takut gagal dalam hal matematika. Dan halo buat perempuan yang saya sukai dan cintai. Saya bukan laki laki romantis seperti laki laki lain, saya cuma bisa melakukan hal ini. Berikan saya jawaban saat kamu telah tiba di pulau kapuk milik mu. I love you to the moon and back, Adel Asharka.’

“AAAAAA COCIWIT BANGET COWOKNYA. Buat mba nya jangan lupa jawab yaa.” Ucap Duta sambil menepuk tangannya di ikuti oleh penonton-penonton lainnya. Jeson dengan lembutnya menarik tangan Adel untuk kembali ketempat duduk yang mereka tadi duduki. Dan mereka mendengarkan Ungu dan Andien yang sedang menyanyikan lagu Saat Bahagia.

“Mau balik ke cara gue ngomong pas pertama kali ketemu sama lu.” Kata Jeson sambil menghadap ke Adel. Dan Adel hanya menganggukkan kepalanya sambil sedikit tersenyum.

“Saya biarkan kamu untuk berfikir, saya biarkan kamu berfikir berhari hari. Saya tau kamu juga suka sama saya, walaupun belum sepenuhnya suka. Itu saya tau, Saya memberimu waktu untuk berfikir.” Setelah Jeson mengatakan itu ia langsung kembali ke posisi semula dan mengubah kembali ucapannya. Tanpa Adel sadari, sejak tadi pipinya mulai memerah kembali.

Teman temannya memberitahu bahwa mereka semua sudah pulang, dan alhasil menyisakan Jeson dan Adel saja. Mau tidak mau, mereka pun memilih untuk pulang. Saat Adel ingin mengembalikan baju flanel milik Jeson, namun Jeson berkata, “Pake aja, soalnya dingin. Udah tengah malam juga.”

Saat Jeson berada di depan Adel, Adel diam diam mengamati pundak Jeson yang bisa dibilang lumayan lebar. Dan melihat tangan Jeson, tiba tiba ia mulai menggenggam tangan Jeson. Hanya bisa kaget dan tersenyum yang mengandung salah tingkah.

“Gue berhasilkan?”

Kita

— Lampu merah pun hidup. Keempat motor itu otomatis berhenti. Adel sedikit kedinginan karena bajunya yang lumayan tipis. “Dingin?” Ucap Jeson sambil mencoba untuk menghadap kebelakang. “Iya sedikit, tapi gapapa.” Jawab Adel menyakinkan Jeson bahwa tidak apa apa.

Parkiran saat itu sangat padat dan susah untuk mencari. Untung saja ada polisi yang mengatur parkiran disana. Mereka mulai memasuki gapura selamat datang. Ketiga perempuan itu menuju satu tempat yang lumayan rame, yaitu bear house yang tepat di samping panggung. Mereka membeli bear house dengan waktu yang lama dan harga yang sedikit menguras dompet pelajar.

Milik Adel selesai terlebih dahulu dan mulai mencari tempat duduk untuk meminumnya. Yang dilakukan oleh Jeson adalah menarik tangan Adel menuju tempat duduk yang kosong. “Kebiasaan banget pake celana pendek. Udah sering dibilangin juga.” Ucap Jeson lalu melepaskan baju flanelnya untuk menutupi kaki pendek Adel.

“Lo suka Sheila On 7?” Tanya Adel ketika selesai menyeruput es nya dan matanya menuju ke panggung untuk melihat mc.

“Suka kok.” Ucap Jeson, namun mata Jeson menuju teman temannya sambil memberikan kode untuk mulai menjauh dan membiarkan dirinya dengan Adel disini.

“Suka lagu apa?” , “Kita” Jawab Jeson dengan pedenya. Adel hanya membentuk mulutnya menjadi huruf O. Tidak lama kemudian MC yang berada di panggung memanggil Sheila On 7 untuk naik ke atas panggung. Seluruh orang langsung menuju panggung dan salah satunya Adel. Jeson sampai pusing mencari posisi Adel. Dan akhirnya ia menemukan posisi Adel. Tepat didepan Duta

“Mari kita sambut tahun baru dengan lagu Kita!!!” Kata MC itu menggunakan mic yang membuat seluruh penonton berteriak dan bertepuk tangan dengan waktu yang bersamaan.

“LAGU LO, LAGU KESUKAAN LO NIH!!” Teriak Adel kepada Jeson yang berada disampingnya, Jeson hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum melihat Adel yang fokus pada Duta. Saat musik mulai, Adel memberikan isyarat kepada Jeson untuk ikut bernyanyi juga.

“Tu wa ga pat.” Kata Duta dengan semangat.

“Di saat kita bersama, di waktu kita tertawa, menangis, merenung oleh cinta ~” Jeson dan Adel bernyanyi saling menatap satu sama lain kemudian tersenyum.

“Dan kau bisikkan kata cinta, kau t'lah percikkan rasa sayang, pastikan kita seirama, walau terikat rasa hina ~” Saat part ini, Jeson mulai berteriak keras sambil melihat Adel yang sibuk mendokumentasi saat duta bernyanyi.

Kenapa Adel? Kenapa?

— ting tong ~

Itu bunyi pertama dari bel itu hari ini yang membuat pertanda bahwa ada seseorang yang sedang menunggu di depan pintu tersebut.

Menampakkan laki laki dengan setelan celana hitam, baju hitam, baju luaran yaitu baju flanel berwarna hitam putih, dan sepatu Ventela yang sangat pas pada kakinya. Tak lama kemudian seseorang membukakan dirinya pintu, Bang Ahad.

“Bang, Adel sudah siap?” Tanya Jeson yang sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai tanda menghormati yang lebih tua. Bang Ahad tidak menjawab, malah membukakan jalan menuju ruang tamu.

Keduanya duduk disofa putih gading yang didepannya ada meja kaca terdapat rokok dan kopi. “Mau?” Tanya Bang Ahad kepada Jeson sambil menyodorkan seputung rokok. Dengan sopan Jeson menolak tawaran tersebut dengan cara berkata ‘iya’ namun tidak mengambil rokok itu.

“Kenapa Adel? Kenapa?” Ucap Bang Ahad lalu mengisap nya lalu dikeluarkan. Jeson baru ingin menjawab, namun Adel sudah tiba didepan mereka. “Ga usah dijawab sekarang. Kapan kapan aja.” Kata Bang Ahad yang kemudian berdiri, begitupun Jeson.

Keduanya saling berpamitan dengan Bang Ahad. “Nanti kasih tau bunda ya, bang?” Ucap Adel sambil memakai helm yang diberikan oleh Jeson. Bang Ahad hanya menganggukkan kepalanya.

2 menit berlalu, teman teman Adel dan teman teman Jeson pun tiba dirumah Adel. Mereka langsung melanjukan motor menujut EXPO yang tepatnya berada di PKT (Pupuk KalTim).

Baru Mulai

— ting tong ~

Bel rumah milik Adel berbunyi setelah melewati waktu magrib. Terlihat seorang laki laki dengan rambut yang masih sedikit basah bersama motor hitam merah nya yang jarang ia gunakan. Iya, dia Jeson.

Terlihat juga Adel yang menggendong Kafa karna masih sedikit tertidur.

“Maunya kalau gini bangunin aja dianya.” Kata Jeson sambil pelan pelan mengambil Kafa dari Adel. Kemudian ia memegang pipi Kafa sebagai cara untuk membangunkannya. Dua menit kemudian, akhirnya mata Kafa terbuka dan langsung memeluk leher Jeson.

“Makasi ya, oh iya lagi ada tamu?” Tanya Jeson kepada Adel.

“Oh enggak kok.” Jawabnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak sama sekali gatal.

“Lah itu motor siapa?” Jeson menunjuk sebuah motor Yamaha NMAX yang penuh dengan warna hitam. Belum sempat Adel menjawab, Bang Ahad tiba-tiba keluar.

“Oh itu motor gue.” Ucap Bang Ahad dengan rokok Marlboro ditangan kanan nya. Jeson yang mendengar itu kemudian melihat Adel dengan wajahnya yang penuh tanda tanya.

“Abangnya Adel, bukan crushnya apa lagi pacarnya.” Seakan-akan membaca pikiran Jeson. Adel yang sempat mendengar itu pun, menyikut perut Bang Ahad dan kemudian menyuruh nya masuk ke dalam rumah.

“Yaudah kalau gitu gue balik ya?” Kata Jeson, sebelum ia meninggal teras rumah, terlebih dahulu Adel memanggil Jeson.

“Kenapa?” Ucap Jeson sambil membalikkan badannya untuk menghadap Adel.

“Eeee malam tahun baru lu free ga? Misalkan lu free ayo tahun baruan bareng. Ga cuma berdua ada temen gue sama temen temen lu juga. Kalau lu mau, chat aja ya. Gue masuk duluan dadah.” Ucapan Adel terlontarkan dengan cepat lalu ia masuk kedalam rumahnya.

Dibalik pintu rumah yang berwarna putih itu, ada perempuan yang merasakan malu dan pipi merah di wajahnya. Selain itu, ada juga laki laki yang sedari tadi tertawa kecil melihat tingkah perempuan yang berada di depannya tadi.

Tak lama kemudian Jeson meletakkan Kafa di kursi khusus untuk kafa yang berada di motor, lalu melajukan motor itu menuju rumahnya. Dan perempuan itu pergi dari belakang pintu. Abangnya selalu menjahilinya karena hal yang terjadi tadi di teras.

Keduanya mulai merasakan hal yang sama, baru mulai.

Sedikit, katanya.

— Masih di tempat yang sama, “Del..” Belum sempat Jeson menyelesaikan kalimatnya, Adel sudah memotong terlebih dahulu.

“Eh sorry ya gue duluan ya dadahh.” Kata Adel sambil melambaikan tangan kepada teman temannya tanpa melihat Jeson, kemudian mendatangi seorang laki laki yang memberhentikan motornya di depan gerbang sekolah, dia Aaron. Saat Adel sudah duduk di motor Aaron, Jeson melepaskan lagi jaket jeans nya dan diberikan kepada Adel sambil mengatakan, “Kebiasaan”

“Lah lo pake apa?” , “Masih ada hoodie yang lu kasih tadi” , “Oke makasi.” Kemudian Adel pergi meninggalkan tempat itu bersama Aaron.

“Gagal sudah.” Gumamnya. Ekal yang mendengar itu hanya bisa menepuk pundak kawannya itu.

Akhirnya Jeson pulang dengan Ekal. Saat di atas motor, Ekal selalu memberikan Jeson pertanyaan. “Lo cemburu? Lo cemburu liat Adel sama cowo tadi?”

“Dikit, tapi yaudahlah”

Tapi yang sebenarnya Jeson rasakan lebih dari sedikit

Gerobak es teh

— Senin, 20 Desember 2021, 12.30 WIB

Zizi, Ninda, dan Adel berjalan menuju luar pagar sekolah untuk membeli es teh gerobakan. Tidak disangka Jeson ada di dekat gerobakan es tersebut bersama teman teman nya.

“Mau beli es?” Tanya Jeson kepada Adel.

“Ya mau beli apa lagi coba.” Jawab Adel, tidak lama kemudian Ekal memberikan kode kepada Jaelani untuk memulai aksinya. Tangan Zizi di tarik oleh Jaelani ke parkiran motor. Tidak butuh waktu lama, mereka pun kembali.

“Zi lo di apain anjir?” , “Gapapa.” Jawab Zizi sambil sedikit tersenyum. Begitupun Jaelani.

“Gue traktir lo pada, terserah deh mau beli berapa,” Ucap Jaelani sambil berteriak. Jeson melihat Jaelani sambil menunjukkan tanda tanya di wajahnya. Jaelani hanya menjawab sambil mengangkat jari jempolnya diikuti senyumannya. Adel sejak tadi tidak mengerti apa yang terjadi.

“Ren, lu kapan? Gue udah nih,” Ucap Jaelani sambil menggandeng tangan Zizi.

“Gue mah udah. Lebih dulu gue dari pada lu,” Balasnya sambil memegang kantong es di tangannya.

“Hah sama siapa?” Tanya Ekal dengan mata melihat lihat sekitar.

“Tuh tuh.” Katanya sambil menunjuk Ninda dengan dagunya. Adel hanya bisa menutup mulutnya dengan perasaan kaget.

“Nah, lu kapan?” Tanya Ekal sambil menyenggol lengan panjang Jeson.

“Soon”

Sudah dua kali

— Terlihat hoodie Jeson yang telah terpakai di tubuh Adel dan tas nya yang lumayan berat sudah ada di tangannya. Membawa tasnya keluar bersama sepatu hitam putihnya dengan tali berwarna hitam.

Mata besar itu melihat dua orang sedang berbicara, Jeson dan Bunda nya.

“Dek kenapa lama sekali? Kasian Jeson nungguin. Bisa bisa terlambat cuma gara gara kamu,” Kata wanita yang memakai blazer berwarna navy.

“Sekolah jam 8 kan masuknya? Sempat aja lah ini bun.” Balas Adel sambil melihat jam tangannya yang berwarna hitam. Setelah itu Jeson dan Adel berpamitan dengan Bunda Adel. Didalam perjalanan kaki Adel terasa dingin dikarenakan ia menggunakan rok pendek di bawah lutut.

Hanya membutuhkan 3 menit untuk menunggu angkot. Saat di dalam angkot, sepasang mata Jeson mendapatkan seseorang yang sangat mencurigakan. Mata orang itu menuju pada kaki Adel. Dengan sigap ia melepaskan jaket jeans nya yang sejak tadi ia pakai.

“Heh kenapa?” Bisik Adel. Jeson mendekati belakang telinga Adel dan berkata, “Lo liat bapak bapak di depan. Dari tadi ngeliatin kaki sampe paha lo. Makanya gue tutupin.”

Sudah dua kali.

Setelah Jeson mengatakan itu, Adel langsung memegang erat jaket jeans yang Jeson berikan.

“Berapa pak?”

“Berdua 4 ribu nak.” Balas bapak itu sambil memperlihatkan 4 jari nya kepada Jeson. Membuka dompet nya dan yang terlihat hanya uang bernilai 5 ribu rupiah.

“Ini pak, kembalian nya buat bapak aja,” Kata Jeson sambil memperlihatkan senyum yang membuat matanya tidak terlihat. Bapak itu berterimakasih, walaupun hanya seribu itu tak apa bagi bapak angkot.

Masih belum ada satupun siswa disekolah saat mereka tiba. Hanya ada satpam, Pak Asep namanya.

“Asik mas Jeson udah ada pacar nih,” Kata pak Asep sambil menyeringai lebar.

“Eh bukan pak, dia mah bukan pacar saya.” Ucap Adel tiba tiba dengan suara yang sedikit meninggi. Sesudah mengucapkan itu, Adel langsung berjalan menuju ruang kelasnya dengan cepat.

Jeson masih ada di depan pos satpam. Pak Asep pun mulai mengerti dengan kode kode yang diberikan oleh Jeson pada nya.

“Semangat mas. Kalau udah jadi, traktir bapak ya?” Jeson hanya menanggapi pak Asep dengan memunculkan jari jempolnya.

Sudah dua kali

— Terlihat hoodie Jeson yang telah terpakai di tubuh Adel dan tas nya yang lumayan berat sudah ada di tangannya. Menenteng tasnya keluar bersama sepatu hitam putihnya dengan tali berwarna hitam.

Mata besar itu melihat dua orang sedang berbicara, Jeson dan Bunda nya.

“Dek kenapa lama sekali? Kasian Jeson nungguin. Bisa bisa terlambat cuma gara gara kamu,” Kata wanita yang memakai blazer berwarna navy.

“Sekolah jam 8 kan masuknya? Sempat aja lah ini bun.” Balas Adel sambil melihat jam tangannya yang berwarna hitam. Setelah itu Jeson dan Adel berpamitan dengan Bunda Adel. Didalam perjalanan kaki Adel terasa dingin dikarenakan ia menggunakan rok pendek di bawah lutut.

Hanya membutuhkan 3 menit untuk menunggu angkot. Saat di dalam angkot, sepasang mata Jeson mendapatkan seseorang yang sangat mencurigakan. Mata orang itu menuju pada kaki Adel. Dengan sigap ia melepaskan jaket jeans nya yang sejak tadi ia pakai.

“Heh kenapa?” Bisik Adel. Jeson mendekati belakang telinga Adel dan berkata, “Lo liat bapak bapak di depan. Dari tadi ngeliatin kaki sampe paha lo. Makanya gue tutupin.”

Sudah dua kali.

Setelah Jeson mengatakan itu, Adel langsung memegang erat jaket jeans yang Jeson berikan.

“Berapa pak?”

“Berdua 4 ribu nak.” Balas bapak itu sambil memperlihatkan 4 jari nya kepada Jeson. Membuka dompet nya dan yang terlihat hanya uang bernilai 5 ribu rupiah.

“Ini pak, kembalian nya buat bapak aja,” Kata Jeson sambil memperlihatkan senyum yang membuat matanya tidak terlihat. Bapak itu berterimakasih, walaupun hanya seribu itu tak apa bagi bapak angkot.

Masih belum ada satupun siswa disekolah saat mereka tiba. Hanya ada satpam, Pak Asep namanya.

“Asik mas Jeson udah ada pacar nih,” Kata pak Asep sambil menyeringai lebar.

“Eh bukan pak, dia mah bukan pacar saya.” Ucap Adel tiba tiba dengan suara yang sedikit meninggi. Sesudah mengucapkan itu, Adel langsung berjalan menuju ruang kelasnya dengan cepat.

Jeson masih ada di depan pos satpam. Pak Asep pun mulai mengerti denga kode kode yang diberikan oleh Jeson pada nya.

“Semangat mas. Kalau udah jadi, traktir bapak ya?” Jeson hanya menanggapi pak Asep dengan memunculkan jari jempolnya.